Sajak yang Terhapus Debu Jam Pasir
Di sebuah kota seberang yang asing, di mana lampu-lampu jalanan tampak seperti mata-mata dingin yang enggan mengenalnya, wanita itu menjalani hidup sebagai pengelana tunggal. Ia berdiri di atas kakinya sendiri, hanya bersenjatakan mental yang mulai retak dan percaya diri setipis helai kain sutra. Baginya, keberanian bukanlah tentang tidak adanya rasa takut, melainkan kemampuannya berjalan di atas tali jemuran yang rapuh sambil berpura-pura tidak melihat jurang kesepian yang menganga di bawah kakinya.
Setiap kali sang surya tenggelam, dimulailah ritual yang menyiksa. Saat dunia luar terlelap, pikirannya justru menjelma menjadi pasar malam yang bising dan penuh sesak. Ia terjebak dalam "labirin kata andai", lorong-lorong tak berujung yang menyesatkan logika. Overthinking baginya adalah seekor laba-laba raksasa yang menenun jaring di langit-langit otaknya, memerangkap setiap ketenangan dan mengubahnya menjadi benang kusut yang perlahan mencekik leher ketabahannya sendiri.
Ia tak pernah benar-benar bisa menyentuh mimpi dengan nyenyak. Tidur hanyalah gencatan senjata yang singkat dan penuh kecurigaan, di mana kelopak matanya terpejam namun kewaspadaannya tetap berjaga di ambang pintu mimpi. Gelisah selalu hadir sebagai tamu tak diundang, membawa bisikan tentang badai yang mungkin takkan pernah datang dan kebenaran-kebenaran yang ia karang sendiri dari bayang-bayang ketakutan. Ia menghabiskan waktu-waktu yang sunyi dengan membedah skenario yang belum terjadi, layaknya arkeolog yang menggali fosil di tanah yang sebenarnya kosong.
Tempat tinggalnya adalah sebuah dunia kecil yang bisu, sebuah kotak rahasia yang setiap malamnya dibiarkan gelap gulita. Kegelapan itu bukanlah ketiadaan cahaya, melainkan sebuah jubah pelindung yang menyembunyikan teriakan hampa yang tak pernah sampai ke telinga siapa pun. Di sudut dapur, ia seringkali meracik bumbu dengan ketulusan yang sunyi, mencoba memahat sedikit kehangatan dari aroma masakan yang ia buat sendiri. Namun, saat api kompor padam dan aroma itu menguap, ia teringat pada deretan angka di dompetnya yang kian meluruh menyerupai pasir yang terjatuh dari jam yang pecah.
Di sana, ia bersimpuh di atas hamparan sajadah yang menjadi satu-satunya pelabuhan tenang di tengah samudera kecemasannya. Ia membiarkan dahinya menyentuh bumi, mengadu pada Sang Pemilik Langit tentang perjuangan yang ia sembunyikan di balik lipatan baju yang rapi. Baginya, doa adalah tali pengikat yang menyatukan kepingan jiwanya, sebuah bisikan lirih yang ia harap bisa menembus langit. Dinding-dindingnya telah hafal betul irama air mata yang jatuh secara ritmis— satu-satunya sahabat yang selalu hadir tanpa perlu diminta. Air mata itu adalah tinta yang menuliskan sajak penderitaan di atas bantal, sebuah karya seni rahasia yang akan menguap begitu fajar menyapa.
Setiap pagi, ia membasuh wajah, mencoba menghapus jejak pertempuran yang baru saja pecah di medan perang batinnya. Ia kembali mengenakan topeng percaya diri, meski ia tahu ia hanyalah nahkoda bagi kapal dengan layar yang koyak, mencoba menavigasi samudera dengan kompas yang patah. Namun, api kecil di dadanya itu bukanlah api yang menghangatkan, melainkan api yang membakar batinnya perlahan. Ia bertahan bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tidak memiliki pilihan untuk hancur.
Di kejauhan, di balik garis cakrawala kota asalnya, ada doa-doa yang dipanjatkan oleh orang tuanya yang menjadi beban seberat gunung di pundaknya. Harapan mereka adalah tembok tinggi yang memenjarakan kerapuhannya, mereka melihatnya sebagai mercusuar yang gagah, tanpa pernah tahu bahwa lampu di dalamnya sedang berkedip sekarat karena kehabisan bahan bakar.
Setiap kali ia mendengar suara mereka melalui layar ponsel yang bercahaya dingin, ia harus kembali menjahit sobekan jiwanya dengan benang kebohongan yang rapi. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh jatuh, karena jika ia retak, maka porselen kebanggaan yang mereka pajang _di ruang tamu harapan_ akan ikut hancur berantakan. Maka di dalam sudut sunyi yang gelap itu, ia terus mendekap kesendiriannya, menyadari bahwa ia hanyalah sebuah pilar yang keropos oleh rayap kecemasan, namun ia tetap memilih berdiri tegak demi menopang langit-langit mimpi orang lain yang terlalu berat untuk ia tanggung sendiri.
Ditulis oleh : Sahabat Siti Soleha.
0 Response to "Sajak yang Terhapus Debu Jam Pasir "
Posting Komentar